POINT PENTING PERIHAL KAIN YANG DIGUNAKAN PRODUK ANANDAPER

Kain inner (inner cloth) adalah terminologi cloth diapers untuk menyebut kain di bagian paling dalam, yang bersentuhan langsung dengan kulit. Hingga saat ini, diskusi tentang seperti apa jenis kain inner masih terus berlangsung hangat, dan banyak pengguna baru popok kain bertanya-tanya banyak hal tentang karekateristik kain ini. Banyak miskonsepsi dan kesalahpahaman terjadi berkaitan dengan karakteristik kain inner, karena perasaan dan anggapan umum tentang bagaimana kain yang terbaik untuk bersentuhan dengan kulit tidak selalu benar dan bahkan sering kali salah! Prinsip utama dalam pemilihan kain inner adalah kain tersebut mesti mengandung benang katun setinggi mungkin dan memiliki pori-pori kain yang selebar mungkin. Seperti umum diketahui bahwa material yang berasal dari alam seperti katun dan rayon, adalah bahan yang terbaik untuk bersentuhan dengan kulit manusia secara langsung. Sebaik apapun material sintetik seperti polyester dan nylon, karena penciptaan bahannya tidak pernah mengalami mekanisme dihidupkan oleh ruh, ketika kontak langsung dengan kulit manusia dalam waktu lama, akan memiliki dampak negatif atau efek samping tertentu. Sebagian orang sensitif, dan mudah sekali mengalami alergi akibat kontak dengan bahan yang tinggi kandungan polyester-nya, dan sebagian lagi tidak. Kajian tentang alergi kulit, seperti ruam-ruam, akibat penggunaan bahan-bahan yang tinggi kandungan sintetiknya sudah lama diteliti. Artikel artikel online seperti artikel di Ezines dan Adiecma adalah sedikit contoh mengenai hal tersebut. Sayangnya seperti halnya hampir tidak ada perhiasan emas yang 24 karat, maka juga hampir tidak ada kain yang 100% katun! Semua kain yang disebut katun hari ini, umumnya mengandung bahan benang katun sekitar 30% - 80% saja. Sudah lama manusia menyadari, bahwa penciptaan bahan sintetik membutuhkan biaya produksi yang jauh lebih murah daripada produksi kapas yang sangat dipengaruhi oleh ketidakstabilan iklim. Dalam setahun belakangan ini, perubahan iklim global semakin memperburuk keadaan, dan banyak sekali terjadi kegagalan panen agrikultur termasuk kapas di seluruh dunia. Saat ini, seiring dengan perkembangan pesat teknologi sintetik di dunia textile, telah mendorong lahirnya banyak sekali spesifikasi kain yang sangat fungsional, sesuai kebutuhan manusia. Dari mulai kain yang mempunyai daya serap tinggi (water absorb), kain yang mampu melewatkan air dan menolak air dengan cepat (water repell) hingga kain yang tahan peluru, semua terbuat dari bahan polymer! Untuk kebutuhan darurat dalam waktu yang singkat, seperti penggunaannya sebagai perlengkapan operasi medis di rumah sakit, material sintetik tersebut sangat menolong. Kain sintetik juga sangat bermanfaat untuk tujuan fungsional lain, yang tidak melibatkan kontak langsung dengan kulit, seperti rompi anti peluru. Tetapi, sehebat apapun kain sintetik, tetap tidak bisa menggantikan sepenuhnya bahan organik seperti katun, untuk semua tujuan yang melibatkan kontak fisik dengan kulit secara langsung! Di sisi yang lain, inovasi pemrosesan kapas dari sejak jaman prasejarah hingga sekarang, tidak berbeda terlalu jauh. Benang katun yang menyukai air, relatif kasar dan kaku, seperti yang kita kenal di jaman modern ini, nyaris tidak berubah dari yang dikenal orang jaman dahulu! Saat cloth diapers atau popok kain mulai diperkenalkan sejak lima tahun lalu sebagai pengganti diapers sekali pakai, orang mulai kebingungan dengan jenis kain apa yang paling baik untuk dipilih sebagai inner yang bersentuhan langsung dengan kulit bayi, untuk waktu yang lama. Perkembangan teknologi pemrosesan benang katun yang mandeg ini juga diperparah dengan lonjakan kenaikan harga benang katun di pasar dunia yang nyaris tak terkendali. Namun demikian,fungsi material organik ini, seburuk apapun dan semahal apapun itu, tetaplah pilihan yang terbaik bagi manusia, karena “tangan” Allah langsung yang bekerja menciptakannya! Banyak produsen dan konsumen yang mengira bahwa syarat utama kain inner untuk cloth diapers adalah dari jenis kain yang paling cepat mengering, setelah terbasahi oleh urin! Pandangan tersebut tentu bertentangan dengan konsep pemilihan bahan dengan kandungan katun yang tinggi, karena benang katun tidak akan bisa mengering secepat benang polyester! Tentu saja anggapan itu dipercaya karena logika akal sehat bahwa kain yang basah oleh urin akan lebih mudah menimbulkan ruam dibanding kain yang cepat mengering. Anggapan tersebut jelas salah! Setidaknya ada tiga penyebab ruam utama pada kulit bayi yang saat ini sudah diidentifikasi dengan baik oleh kalangan medis. Pertama, seperti yang telah disebutkan di atas, munculnya ruam tersebut disebabkan karena reaksi penolakan dari antibodi akibat kontak dengan material yang tinggi kandungan non organiknya, dalam waktu yang lama. Oleh karenanya material kain inner yang dipilih oleh Ananndapers senantiasa dari bahan dengan kandungan katun yang setinggi mungkin. Penyebab kedua terjadinya ruam adalah tertutupnya pori-pori kulit oleh bulu-bulu mikroskopik kain yang sangat padat, sehingga tidak memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang baik, keluar dan masuk dari kulit. Seperti telah kita ketahui bersama, tubuh kita menghasilkan panas untuk memelihara proses metabolisme sepanjang hari. Panas tersebut mesti dikeluarkan dari dalam tubuh, melalui aliran udara konveksi yang menyentuh permukaan kulit dan pembuangan keringat melalui pembuluh keringat. Apabila pori-pori kulit manusia tertutup oleh jutaan partikel bulu mikro, maka mekanisme pembuangan panas tubuh tersebut akan terhambat, dan sangat cepat mendorong terjadinya ruam kulit, atau dalam istilah jawanya disebut “keringet buntet”. Oleh karenanya, material kain inner yang dipilih Ananndapers senantiasa dari kain dengan tingkat porositas yang cukup baik, sehingga memudahkan terjadinya aliran udara konveksi. Salah kaprah tentang kain dengan kemampuan “breathable” ini sering terjadi tidak hanya di kalangan konsumen, tapi juga produsen! Banyak produsen yang menggunakan kain breathable pada bagian outer, bukan pada bagian inner- nya, dengan harapan agar tetap nyaman dipakai untuk waktu lama. Pada kenyataannya, kain breathable di bagian outer sama sekali tdak dibutuhkan, karena sirkulasi udara dari kain inner ke bagian luar popok kain, sangat mudah berlangsung melalui celah sempit pada lingkar paha dan lingkar perut dari popoknya itu sendiri. Justru yang terpenting, dan yang sering diabaikan, adalah tingkat porositas yang setinggi mungkin pada kain inner. Penyebab ketiga terjadinya ruam adalah ketidakcocokan konsumsi susu formula, sehingga kelebihan sampah protein yang terbuang melalui urinasi, menimbulkan reaksi alergik tertentu di kulit. Untuk penyebab yang terakhir ini, pada banyak kasus, pemakaian diapers merek apapun juga tidak akan mampu menghilangkan penyebab ruam, dan satu- satunya solusi adalah dengan mengurangi atau mengganti jenis susu formula yang dikonsumsi bayinya. Demikianlah sekelumit tentang khazanah kain inner cloth diapers pada umumnya. Semoga bermanfaat.

ditulis oleh iwan suryo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar